Rabu, 13 Juli 2016

Laporan Penelitian Biologi "Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kacang Hijau"

PEMERINTAH KABUPATEN LEBONG
DINAS PENDIDIKAN NASIONAL PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 LEBONG SAKTI


MAKALAH BIOLOGI
PENGARUH pH TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KACANG HIJAU

 DISUSUN OLEH KELOMPOK 4
OKTARIA SILVIANI
DILA TRI UTAMI
DELFI AGUSTRINA
ADINDA RAHMA KASIH
PUTRA APRIONO
KELAS : XII IPA 1
GURU PEMBIMBING : HENDRA ROZI, S.Pd


SMA NEGERI 1 LEBONG SAKTI

Jl. Lemeupit Kec Lebong Sakti Kode Pos 39164





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktikum yang berjudul “Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Kacang Hijau”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Biologi. Penulisan laporan ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan kacang hijau.
Kami menyadari laporan ini masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penelitian ini. Mudah-mudahan makalah Biologi ini bermanfaat bagi kita semua.


Lebong Sakti, Agustus 2015


                                                                                    Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................  i
DAFAR ISI  .................................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................  1
1.1 Latar belakang...................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ................................................................................................  2
1.3 Tujuan dan Manfaat ............................................................................................  2
1.4 Hipotesis .............................................................................................................  3
BAB II SISTEMATIKA KERJA............................................................................... 4
2.1 Alat dan Bahan.................................................................................................... 4
2.2 Langkah Kerja .....................................................................................................  4
BAB III HASIL DAN  PEMBAHASAN ...................................................................  6
3.1 Tabel Hasil Pengamatan Dan Pembahasan .........................................................  6
BAB IV PENUTUP .....................................................................................................  14
3.2 Kesimpulan .........................................................................................................  14
3.3 Saran ...................................................................................................................  14
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................  15


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pertumbuhan adalah salah satu ciri makhluk hidup yang melangsungkan kehidupannya. Seluruh organisme yang masih hidup melakukan pertumbuhan guna menambah massa, volume maupun tinggi tubuh organisme. Tidak terkecuali pada tanaman. Kacang hijau adalah tanaman budidaya dan palawija yang di kenal luas di daerah tropis. Tanaman ini memiliki kulit yang hijau, berbiji putih, dan sering disebut kecambah. Kami memilih kacang hijau sebagai bahan uji coba praktikum kami, karena kacang hijau adalah tanaman yang mudah ditemukan, selain itu kacang hijau juga mengalami proses pertumbuhan yang cukup cepat dibandingkan dengan tanaman lain, sehingga kami dapat mengamati pertumbuhannya dengan cukup jelas.   
Dalam melangsungkan pertumbuhannya, selain membutuhkan cahaya dan air, pertumbuhan kacang hijau juga membutuhkan faktor lain, salah satunya adalah nilai pH tanah. Sebagai makhluk hidup, kita perlu belajar untuk mengetahui peranan pH terhadap pertumbuhan tanaman. Apabila konsentrasi H+ dalam tanah lebih banyak dari OH-, maka suasana tanah akan menjadi asam. Sebaliknya, apabila konsentrasi OH- lebih banyak daripada konsentrasi H+, maka suasana tanah menjadi basa. Apabila jumlah  konsentrasi H+ sama dengan jumlah konsentrasi OH-, maka tanah akan bersifat netral.
Apabila tanah terlalu asam atau terlalu basa, maka tanaman akan tumbuh kurang sempurna dan kemungkinan tanaman tidak tumbuh. Memang ada beberapa tanaman tertentu yang senang di tanah asam maupun basa. Ketersediaan unsur hara makro didalam tanah ini sedikit sedangkan hara mikro seperti Besi dan Alumunium tinggi. Hal ini mengakibatkan tanaman kekurangan hara dan keracunan. 
Secara teoritis, angka pH berkisar antara 1-14. Angka 1 berarti kepekatan ion Hidrogen di dalam tanah ada 10-1 atau 1/10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat asam. Sementara angka 14 berarti kepekatan ion Hidrogennya 14-10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat basa. Untuk melakukan uji coba ini kami memilih air cuka rumah sebagai penguji pengaruh pH asam, karena air cuka rumah memiliki pH sekitar 2,4 dan abu gosok sebagai penguji pengaruh pH basa karena memiliki pH 7 (netral). Hal ini kami lakukan karena air cuka dan abu gosok mudah ditemukan dikehidupan sehari-hari.
1.2  Rumusan Masalah
a.       Adakah pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan kacang hijau ?
b.      Mengapa pH tanah mempengaruhi pertumbuhan kacang hijau ?
c.       Bagaimana pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan kacang hijau ?
1.3  Tujuan dan Manfaat
a.       Tujuan
-          Untuk mengetahui nilai pH yang baik bagi pertumbuhan kacang hijau
-          Mengetahui seberapa besar pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan kacang hijau


b.      Manfaat
-          Dapat memberikan pengetahuan kepada para pelajar dan petani  mengenai pH yang baik untuk pertumbuhan kacang hijau.
1.4  Hipotesis
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor eksternal yang memperngaruhi pertumbuhan kacang hijau, oleh karena itu jika pH tanah tidak sesuai maka kecambah itu akan terganggu pertumbuhannya. pH tanah yang baik untuk pertumbuhan kecambah, menurut kami sekitar pH 7, karena pH 7 tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa (netral). Sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kecambah.



BAB II
SISTEMATIKA KERJA
2.1 Alat dan Bahan
a.       Alat                                                      
ü  Polibek 5 buah                             
ü  pH meter tanah
ü  Buku                                
ü  Label                                
ü  Pena
ü  Mistar       
b.      Bahan
ü  Tanah 5 macam
ü  Kacang hijau 10 biji
ü  Cuka 3 botol
ü  Abu 2 kantong plastik
ü  Air aqua                           
2.2  Langkah Kerja
a.       Siapkan 5 buah polibek
b.      Cari tanah dari sumber yang berbeda sebanyak 5 macam. Hal ini dilakukan untuk pengaturan nilai pH suatu tanah.
c.       Masukkan tanah ke dalam polibek yang telah disediakan untuk masing-masing tanah.
d.      Ukur nilai pH tanah dengan menggunakan alat pH meter tanah / pH tester
e.       Jika nilai pHnya sudah di ukur, tulis pada label yang telah disediakan kemudian tempelkan label tersebut disetiap polibek sesuai dengan nilai pHnya (Asam/netral/basa)
f.       Jika tanah yang di ukur pHnya tidak sesuai, maka lakukan manipulasi dengan menambahkan suatu zat, seperti cuka dan abu gosok
g.      Jika nilai pH tanah yang telah dimanipulasi sesuai, maka tempelkan kembali label dengan nilai pH yang sudah tepat.
h.      Tanamkan bibit kacang hijau di setiap polibek sebanyak 2 biji.
i.        Jika sudah selesai, tempatkan di tempat yang memiliki cahaya yang sama.
j.        Siram bibit yang sudah ditanam secara rutin 2 x sehari dengan jumlah yang sama.
k.      Lakukan pengamatan dan pengukuran terhadap pertumbuhan kacang hijau setiap hari.
l.        Catat hasil pengukuran terhadap pertumbuhan kacang hijau.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan Dan Pembahasan
a.       Tabel Hasil Pengamatan
No

Hari/tanggal
Keadaan Keasaman tanah terhadap Pertumbuhan Panjang batang (cm)
pH 10
pH 9
pH 7
pH 5,2
pH 4
1.
Kamis, 13-08-2015
0
0
0
0
0
2.
Jumat, 14-08-2015
0
0
0
0
0
3.
Sabtu, 15-08-2015
0
0
2
1
0
4.
Minggu, 16-08-2015
0
0
8,5
5,3
4
5.
Senin, 17-08-2015
0
0
11
7,5
7
6.
Selasa, 18-08-2015
0
0
11,5
9
9
7.
Rabu, 19-08-2015
0
0
12,5
11
11
8.
Kamis, 20-08-2015
0
0
13
12
12
9.
Jumat, 21-08-2015
0
0
14
13
13
10.
Sabtu, 22-08-2015
0
0
15,5
14
13,3
11.
Minggu, 23-08-2015
0
0
16
15
14
12.
Senin, 24-08-2015
0
0
16,5
16
15
13.
Selasa, 25-08-2015
0
0
18
17
15
14.
Rabu, 26-08-2015





Rata-rata
0
0
10,65
9,29
8,71

b.      Pembahasan Tabel Pengamatan
Hari Pertama
Semua polibag yang memiliki nilai pH yang berbeda belum ada kecambah yang tumbuh.
Hari Kedua
Semua polibag yang memiliki nilai pH yang berbeda belum ada kecambah yang tumbuh.
Hari ketiga
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau belum tumbuh. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) tumbuh kecambah kacang hijau dengan tinggi 1 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) tumbuh kecambah kacang hijau dengan tinggi 2 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu dengan pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Keempat
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh setinggi 4 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 5,3 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 8,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Kelima
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 7 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 7,5 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 11 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Keenam
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 9 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 9 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 11,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Ketujuh
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 11 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 11 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 12,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Kedelapan
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 12 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 12 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 13 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Kesembilan
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 13 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 13 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 14 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Kesepuluh
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 13,3cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 14 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 15,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Kesebelas
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 14 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 15 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 16 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Keduabelas
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tumbuh hingga 15 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 16 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 16,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh.
Hari Ketigabelas
Pada polibag 1 yaitu dengan tanah pH 4 asam (asam), kecambah kacang hijau tetap berada di 15 cm. Sedangkan, pada polibag 2 yaitu dengan tanah pH 5,2 (asam) kecambah kacang hijau bertambah tinggi menjadi 17 cm. Pada polibag 3, yaitu dengan pH tanah 7 (netral) kecambah kacang hijau bertambah tinggi hingga 17,5 cm. Pada polibag 4, yaitu dengan pH tanah 9 (basa) kecambah kacang hijau belum tumbuh. Dan pada polibag 5, yaitu pH tanah 10 (basa) kecambah kacang hijau juga belum tumbuh. 

c.       Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman kacang hijau yang disiram setiap hari dengan jumlah yang sama dan mendapatkan intensitas cahaya yang juga sama  mulai berkecambah pada saat usia 3 hari meskipun tidak semua polibag. Pertumbuhan kecambah pada polibag dengan pH tanah 7 (netral) lebih cepat tumbuh dibandingkan polibag dengan tanah yang memiliki pH asam / basa. Pada kondisi ini kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air sehingga tanaman dapat dengan mudah menyerap unsur hara. Tanah yang memiliki pH netral (tidak terlalu asam/basa) memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman, yaitu mengandung unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman, seperti Nitrogen (N), Potassium/Kalium (K), dan Pospor (P). Zat-zat tersebut sangat diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Sehingga dalam proses perkecambahan tanaman akan tumbuh sempurna. Kacang hijau yang berada di tanah dengan pH 5,2 (asam) juga mengalami pertumbuhan, tetapi kurang sempurna dan pertumbuhannya lambat. Hal ini terjadi karena pada tanah asam, tanah didominasi oleh ion Al, Fe, dan Mn. Ion-ion ini akan mengikat unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, terutama unsur P (fosfor), K (Kalium), S (surfur), Mg (Magnesium) dan Mo (Molibdenum) sehingga tanaman tidak dapat menyerap makanan dengan baik meskipun kandungan unsur hara dalam tanahnya banyak. Selain ion-ion Al, Fe, dan Mn mengikat unsur hara, ion-ion tersebut juga meracuni tanaman. Pada tanah asam, kandungan unsur mikro seperti seng (Zn), tembaga (Cu), dan Kobalt (Co) juga tinggi sehingga meracuni tanaman. Hal ini yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan produksi tanaman. Polibag dengan pH tanah 4 (asam) tumbuh tidak sempurna daripada polibag pH  5,2. Apabila pH lebih rendah dari 4 pada umumnya terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Konsentrasi Alumunium dan Besi yang tinggi pada tanah memungkinkan terjadinya ikatan terhadap fosfor dalam bentuk Alumunium Fosfat. P yang terikat oleh Alumunium tidak dapat digunakan oleh tanaman. Tanaman yang ditanam pada tanah yang memiliki pH asam biasanya juga menunjukkan klorosis (peleburan klorofil sehingga daun berwarna pucat) akibat kekurangan nitrogen atau kekurangan magnesium. Selain itu, pH tanah asam memungkinkan terjadinya hambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat bagi proses mineralisasi unsur hara seperti N dan P dan mikroorganisme yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, misalnya bakteri tanah yang dapat bersimbiosis dengan leguminosa seperti Rhizobium atau bersimbiosis dengan tanaman non leguminosa seperti Frankia sehingga sering dijumpai daun-daun tanaman mengalami klorosis akibat kekurangan N. Hal ini menyebabkan tanaman kacang hijau menjadi kerdil dan tidak sempurna. Sedangkan tanaman kacang hijau yang ditanam dalam polibag dengan pH 9 dan 10 (basa) tidak tumbuh. Hal ini terjadi karena, tanah yang mengandung kebasaan yang tinggi biasanya tanah tersebut mengandung kadar Kalsium yang tinggi, sehingga terjadi fiksasi terhadap fosfat dan tanaman pada tanah basa sering sekali mengalami defisiesi P. Hal ini menyebabkan unsur P akan banyak terikat oleh Ca, sementara unsur mikro molibdenum berada dalam jumlah banyak. Unsur Mo pada tanah basa menyebabkan tanaman keracunan, sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dalam keadaan tanah yang mengandung kebasaan yang tinggi.
 Dari pernyataan-pernyataan diatas, terbukti bahwa pertumbuhan kecambah sangat dipengaruhi oleh faktor pH tanah, berdasarkan penelitian jika kita menanam kecambah pada tanah yang terlalu asam/terlalu basa kecambah tidak akan tumbuh, meskipun tumbuh kecambah akan kurang sempurna. Kecambah akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 7 (netral).





BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh dari data yang terdapat pada tabel pengamatan pertumbuhan kecambah tersebut, dapat kita lihat bahwa pertumbuhan kecambah pada polibag 3 dengan pH 7 (netral) memerlihatkan pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan kecambah yang terdapat pada polibag 1 (pH 4) 2 (pH 5,2), 4 (pH 9), dan 5 (pH 10). Hal ini juga bisa dilihat dari perhitungan rata-rata pertumbuhan tinggi kecambah, yaitu pH 4 = 8,71 cm, pH 5,2 = 9,29 cm, pH 7 = 10,65 cm, pH 9 = 0, dan pH 10 = 0.
Dengan hasil pengamatan tersebut, kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa pH tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan kecambah kacang hijau. Pertumbuhan kecambah yang lebih cepat adalah pada tanah yang memiliki pH tidak terlalu asam dan juga tidak terlalu basa, yaitu sekitar 6,5 - 7. Sedangkan tanah yang memiliki pH asam/basa yang tinggi, pertumbuhan kecambah akan terhambat dan tidak sempurna.

4.2   Saran
ü  Sebaiknya perlu diadakan penelitian ulang untuk lebih memperkuat hasil penelitian.
ü  Sebaiknya dilakukan penetian lebih lanjut untuk tanaman kacang hijau hingga tahap perkembangan dan menghasilkan buah.


DAFTAR PUSTAKA
http://annisaulthegunners.blogspot.com/2013/10/laporan-hasil-percobaan-pada-kacang.html?m=1





LAMPIRAN FOTO


pH 10

pH 4

pH 9

pH 5,2

pH 7

MAKALAH PRAKTIKUM ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT GLUKOSA

Kata Penghantar
Puji syukur kami kirimkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga hasil dari praktikum ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Praktek dalam suatu pelajaran kimia sangat penting karena untuk menyakinkan jawaban secara ilmiah, dengan adanya kerja kelompok dalam tugas praktek kimia bisa memudahkan untuk menjawab secara ilmiah sehingga dari setiap individunya yakin dari jawaban yang telah dibuktikan kebenarannya dalam praktek kimia tersebut.
Semoga makalah ini bisa memberi manfaat bagi kita semua.
















Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... 1
Daftar Isi ............................................................................................................. 2
Bab I. Pendahuluan ............................................................................................. 3
            Latar Belakang........................................................................................ 3
            Tujuan .................................................................................................... 3
            Waktu dan Tempat ................................................................................. 3
            Alat dan Bahan ...................................................................................... 4
Bab II. Pembahasan .......................................................................................... 5
            Langkah Kerja ...................................................................................... 5
            Hasil dan Pembahasan .......................................................................... 5
Bab III. Penutup ............................................................................................... 9
            Kesimpulan .......................................................................................... 9
            Saran ..................................................................................................... 9
Daftar Pustaka .................................................................................................. 10











Bab I. Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Secara garis besar gula termasuk dalam rangkaian karbohidrat. Karbohidrat ini dibagi menjadi 3 kelompok yaitu monosakarida, di sakarida dan poli sakarida.
Mono sakarida misalnya: glukosa,fruktosa, galaktosa
Disakarida misalnya fruktosa, maltosa, laktosa
Poli sakarida misalnya pati, selullosa, glikogen.
Rumus kimia glukosa adalah C6H12O6, artinya adalah bahwa glukosa tersusun 6 atom Carbon (C), 12 atom Hidrogen (H), 6 atom oksigen (O).
Jika 2 sendok makan gula putih (pasir) dilarutkan ke dalam segelas air, maka akan didapatkan larutan gula. Larutan dapat dikelompokkan atas larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Sedangkan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik sedangkan larutan nonelektrolit tidak menghantarkan arus listrik, telah dijelaskan oleh seorang ahli kimia swedia Svante August Arrhenius (1859-1927).

B.     Tujuan
1.      Mengetahui daya hantar listrik padatan/larutan senyawa glukosa/gula pasir
2.      Mengetahui daya kelarutan senyawa glukosa/gula pasir dalam pelarut polar atau nonpolar
C.     Waktu dan Tempat
Selasa, 22 Oktober 2013 bertempat di Lab. Fisika


D.    Alat dan Bahan
-          Glukosa/gula pasir (C6H12O6)  2 sendok
-          Gelas kimia          2 buah
-          Lampu LED         2 buah
-          Kabel                    secukupnya
-          Minyak sayur       secukupnya
-          Batang pengaduk/sendok
-          HVS














Bab II. Pembahasan
A.    Langkah Kerja
1.    Ambillah 1 sendok makan glukosa, letakkan dikertas HVS secara bertumpuk
2.    Sentuhlah tumpukan glukosa tersebut dengan ujung paku alat uji. Kedua ujung paku jangan saling bersentuhan. Perhatikan lampu alat uji (menyala/tidak menyala)
3.    Siapkan air dalam gelas kimia
4.    Masukkan glukosa yang sudah diuji tersebut kedalam air/gelas kimia, aduk-aduk. Perhatikan apa yang terjadi (larut/tidak larut).
5.    Masukkan kedua ujung paku kedalam larutan glukosa tersebut. Ujung paku jangan sampai bersentuhan. Perhatikan lampu alat uji (menyala/ tidak menyala)
6.    Lakukan hal yang sama cara kerja 1-5 mengunakan minyak sayur sebagai pengganti air.

B.     Hasil dan Pembahasan
Tabel Pengamatan Glukosa dengan Air
Aspek yang diamati
Glukosa padat
Air + Glukosa
Lampu
(terang/redup/mati)
Lampu mati
Lampu mati
Kelarutan
(larut/tidak larut)
Tidak larut
Larut




Tabel Pengamatan Glukosa dengan Minyak
Aspek yang diamati
Glukosa padat
Minyak + Glukosa
Lampu
(terang/redup/mati)
Lampu mati
Lampu mati
Kelarutan
(larut/tidak larut)
Tidak larut
Tidak larut

Larutan yang memberi nyala lampu merupakan larutan elektrolit sedangkan jika tidak ada reaksi atau perubahan apa-apa maka larutan tersebut merupakan larutan nonelektrolit.
Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit merupakan larutan yang dibentuk dari zat elektrolit. Sedangkan zat elektrolit itu sendiri merupakan zat-zat yang di dalam air terurai membentuk ion-ionnya. Zat elektrolit yang terurai sempurna di dalam air disebut elektrolit kuat dan larutan yang dibentuknya disebut larutan elektrolit kuat. Zat elektrolit yang hanya terurai sebagian membentuk ion-ionnya di dalam air disebut elektrolit lemah dan larutan yang dibentuknya disebut larutan elektrolit lemah.Larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik karena mengandung ion-ion yang dapat bergerak bebas. Ion-ion itulah yang menghantarkan arus listrik melalui larutan. Contoh zat elektrolit yang terurai dalam air menjadi ion-ion:
NaCl (aq)                     →        Na+ + Cl-
            HCl (aq)                       →        H+ + Cl-
            H2SO4 (aq)                   →        2 H+ + SO42-
            NaOH (aq)                   →        Na+ + OH-
            CH3COOH (aq )           →        CH3COO - + H+
Larutan Non-Elektrolit
Larutan non elektrolit merupakan larutan yang dibentuk dari zat non elektrolit. Sedangkan zat non elektrolit itu sendiri merupakan zat-zat yang di dalam air tidak terurai dalam bentuk ion-ionnya, tetapi terurai dalam bentuk molekuler. Contoh zat nonelektrolit yang tidak terurai menjadi ion-ion:
C6H12O6                    →        C6H12O6
            C2H5OH                    →        C2H5OH
            CO(NH2)2                 →        CO(NH2)2
Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik sedangkan larutan nonelektrolit tidak menghantarkan arus listrik, telah dijelaskan oleh seorang ahli kimia dari Swedia Svante August Arrhenius (1859-1927).Arrhenius menemukan bahwa zat elektrolit dalam air akan terurai menjadi partikel-partikel berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik. Karena secara total larutan tidak bermuatan, maka jumlah muatan positif dalam larutan harus sama dengan muatan negatif.Atom atau gugus atom yang bermuatan listrik itu dinamai ion. Ion yang bemuatan positif disebut kation, sedangkan ion yang bermuatan negatif disebut anion.Perubahan suatu senyawa menjadi ion-ion dalam suatu larutan disebut prosesionisasi.
Ketika diberi beda potensial, Ion yang bermuatan negatif bergerak menuju anoda (+) sedangkan ion yang bermuatan positif bergerak menuju katoda (-) karena adanya perbedaan muatan. Aliran ion inilah yang menyebabkan larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik.
Senyawa sepetri glukosa dalam bentuk padatan maupun larutan tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak mengalami ionisasi atau tetap dalam bentuk molekul. Larutan nonelektrolit terdiri atas zat-zat nonelektrolit yang tidak dilarutkan ke dalam air tidak terurai menjadi ion (tidak terionisasi). Dalam larutan, mereka tetap berupa molekul yang tidak bermuatan listrik. Itulah sebabnya larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.Contoh larutan non elektrolit: Larutan Gula (C12H22O11), Etanol (C2H5OH), Urea (CO(NH2)2), Glukosa (C6H12O6), dan lain-lain.
              Ketika suatu zat dilarutkan dalam air, maka terdapat 3 kemungkinan yang terjadi yakni zat tersebut larut secara sempurna, larut sebagian dan tidak larut dalam air. Glukosa jika dilarutkan dalam pelarut polar (air) maka glukosa tersebut akan larut dalam air. Sedangkan jika glukosa dilarutkan dalam pelarut nonpolar (minyak) maka glukosa tidak akan larut dengan minyak.










Bab III. Penutup
Kesimpulan
Glukosa / gula pasir (C6H12O6) merupakan larutan nonelektrolit karena dari hasil percobaan glukosa tidak menghantarkan arus listrik, tidak terionisasi, lampu tidak menyala, dan tidak terdapat gelembung gas. Glukosa jika dilarutkan dalam pelarut polar (air) akan larut sedangkan dalam pelarut non polar (minyak) glukosa tidak larut.

Saran
Dalam melakukan suatu praktek kimia kita harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan dalam percobaan dan mengamati dengan seksama percobaan tersebut sehingga kita mendapatkan jawaban yang benar secara ilmiah.









Daftar Pustaka